Ya temen temen semuanya kenalin kali ini aku mulai bakal di sibukan sama nulis ceritanya Nara mumpung lagi cuti kuliah nih lumayan buat nambah kesibukan hehe.. ini diangkat dari kisah nyata ya... ada yang nanya ga ya? kisahnya bakal kaya gimana sih sama tentang apa sih ? ya disini aku bakal kasih bocoran deeeeh, jalan sempit yang harus dilalui menuju jalan yang lebih luas eist itu ibaratnya yaaaa hehehe.. intinya cerita ini mengisahkan anak yang hidup di desa terpencil sejak umur 2 tahun dia ditingga ibunya ke luar negri (eh keren banget ya luar negri hehe) ya jadi ibunya mengadu nasib untuk membantu perekonomian keluarganya, tumbuh besar tanpa ibu selama lebih dari 5 tahun membuat nara lupa dan tidak tahu siapa ibu aslinya, penasaran kan yaaa... tapi bagaimana tumbuhnya nara hingga kini dia menjadi seseorang yang dibanggakan keluarganya ? nah penasaran kaan yu ikutan ceritanya... by the way temen temen semunya kayanya aku bakal nulis setiap hari Sabtu atau Minggu ya di sela-sela libur aja hehe.. ini sebenernya dari jaman aku keluar sekolah SMK ya tepatnya tahun 2015 aku itu udah pengen banget bikin novel tapi ga kelar-kelar ya, makanya deh sekarang aku bakal lebih rajin lagi biar kesampean nih (eh jadi curhat ya? gapapa lah ya hehe)
lanjutan nya akan di lanjutkan malem ya hehee....
Bismillahirrahmanirrahim....
Sebenernya tulisan ini agak alay sih. tapi ga papa ya namanya juga belajar hihi
oh iya temen-temen bisa di komentar aja kalau ada kata-kata yang kurang pas atau kurang ngena atau kalau lebih cepatnya bisa di email jugaa..
Awal yang manis untuk sambutan hangat
Tubuh mungil yang
berlari ria di atas batas-batas sawah dengan balutan baju muslim hijau dan
kerudung yang bertopi menjadi kawan larinya sore itu, air yang menggenangi padi
hijau yang berusia 1 bulan itu menjadi musuh terberatnya ketika ia terjatuh
ataupun terpeleset. Ya sebut saja si mungil itu dengan nama nara…
Tepat setiap jam 2
siang nara harus memenuhi kewajibannya sebagai siswa sekolah agama di MDA Nurul
Iman terletak di suatu perumahan yang masih terbilang baru dengan beberapa
rumah yang sudah di bangun. Cat hijau tua yang menjadi ciri MDA tersebut
terletak persis di depan jalan utama perumahan, di depan MDA ada lahan kosong
yang disimpan drum-drum bekas aspal yang dimanfaat kan sebagai tempat bermain
para santri wan/santri wati sekolah agama tersebut. Rasanya sangat indah ketika
tempat itu menuju sore ya, bagaimana tidak kegembiraan dan tertawa santri wan
dan satri wati MDA Nurul Iman yang sedang menikmati taman bermain menjadi
kesenangan hangat bagi penduduk perumahan itu.
Nara salah satunya
santri yang bersekolah agama di MDA Nurul Iman memiliki teman yang terbilang
banyak, dan salah satu snatri yang aktif dan cerdas di sekolah agamanya ia
memiliki banyak mimpi di masa depan, jarak tempuh dari rumah bibinya menuju MDA
Nurul Iman adalah sejauh 1 KM menggunakan jalan umum, namun nara selalu
menggunakan jalur pintas yaitu melewati hamparan sawah yang luas agar jarak
yang ditempuh untuk sekolah agama tidak terlalu jauh, tak jarang ia dan
teman-temannya bertemu dengan seekor ular dan berbagai binatang lainnya yang
membuat si mungil berusia 7 tahun itu lari ketakutan,
Mengapa nara pergi
sendiri ? bagaimana dengan orang tuanya atau keluarganya ?
Ya sejak usianya 2
tahun nara sudah ditinggal oleh ibunya ke arab Saudi untuk membatu ayah nara
memenuhi kebutuhan keluarga, yang pada saat itu ayah nara bekerja sebagai
Pegawai Negeri Sipil di salah satu kantor dinas Perpustakaan Kabupaten. Nara
adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, keluarga nara yang saat itu blm memiliki
rumah masih menumpang tinggal dengan neneknya, selama kurang lebih 5 tahun nara
tidak mendapat hak sebagai anak dari ibunya, ayahnya yang sibuk bekerja, kakak
perempuan pertama yang harus bersekolah SMA dan kakak laki-laki yang ke 2 dan
ke 3 yang sma-sama harus menyelesaikan kewajibannyan sebagai siswa SMP dan SD
menjadikan alasan utama nara pergi ke sekolah agama sendiri. Kebiasaannya yang
mandiri menjadikan segala sesauatu nya ia jalankan sendiri.
Pagi cerah di hari
minggu yang membuat si mungil tertawa ria…
Pagi
yang masih di selimuti udara sejuknya embun, nara tebangun di antara kakak
kakak nya yang masih tidur di atas kasur lantai, melihat ayah nya yang sudah
berangkat kerja nara bergegas pergi ke kamar mandi “bibi dimana anduk nara”
suara yang keluar dari mulut mungil yang ditujukan pada tantenya yang sedang
memasak, “ada dijemuran” jawab tantenya sambil mencicipi masakannya. Dengan
jalan jinjit di atas peluran dapur rumah tante nara mengambil handuknya lalu
berlali menuju kamar mandi.
Disiang hari yang terik nara pergi ke rumah nenden,
seperti biasa keseharian nara adalah bermain dengan nenden yang uasianya 2
tahun lebih tua daripada nara. Rambut pendek dengan jepit pink yang mengait di
rambut hitam itu menjadi sambutan hangat untuk nenden, “hey nar mau mau main ?
bentar ya harus ngeberesin rumah dulu nih” awal yang dikatakan oleh nenden yang
hendak sudah tau bahwa nara berniat mengajaknya main. Nenden adalah seorang
anak yatim piatu yang tinggal dengan neneknya, nenden hidup lebih mandiri daripada
nara, wajar saja kedua anak ini sangat klop karena hal yang mereka rasakan hampir
sama, banyak hal yang dapat nara petik dari kehidpan nenenden saat nara
beranjak dewasa.
